JANGAN PERNAH LELAH BERBUAT BAIK
Hidup baik di tengah orang jahat sering menjengkelkan dan
melelahkan. Kita yang berusaha baik malah “rekasa”, mereka yang rusak-rusakan
malah gemuk-gemuk dan nyaman. Itulah yang menggoda perasaan pemazmur. Mereka
cemburu kepada pembual-pembual dan melihat “kemujuran orang-orang fasik sebab
seolah-olah kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka”
Pemasmur merefleksikan kegundahan dan kelelahan jiwa banyak orang dan bahkan
keputus-asaan mereka untuk tetap memelihara kehidupan yang baik. Masihkah ada
gunanya hidup baik, kalau yang nakal malah sejahtera? “Sia-sia sama sekali aku
mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah”,
kata pemazmur dengan lelah dan putus asa.
Namun sikap itu dicabut kembali tatkala pemazmur boleh menyaksikan babak akhir
dari pergumulan berat itu, yaitu bahwa kemakmuran orang fasik adalah sementara
dan semu. Ketika pemazmur “masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan
memperhatikan” yaitu ketika mereka boleh menyelam dan memasuki
pengalaman-pengalaman yang lebih mendalam bersama Allah, maka terkuaklah
rahasia yang menutupi kehidupan. Bahkan pemazmur sampai kepada kesimpulan
betapa bersyukurnya hidup dalam lindungan Tuhan. Dengan sukacita dan syukur ia
bersaksi “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak
ada yang kuingini di bumi”
Menjaga kesucian dan kehidupan yang baik dan bersih di tengah-tengah masyarakat
yang tidak bersih memang sering berat dan melelahkan. Banyak orang tidak tahan
dan menyerah. Jangan kita merasa lelah jika kita boleh menjadi anak-anak Tuhan
dengan panggilan kebaikan dan kebenaran. Jangan pernah menjadi lelah untuk
berbuat baik dan benar. Menjadi lelahlah dan resahlah kalau kita berada dalam
ketidak-benaran. (Mzm. 73 : 1 – 20)
SALAM TAC, tetap semangat dan penuh gairah didalam Tuhan
trimakasih infonya,,
BalasHapussangat bermanfaat,,
salam sukses,,,.